
Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Intan Rohma Nurmalasari, SP, MP, menginisiasi program pemberdayaan masyarakat di kawasan Bromo Tengger Semeru. Program ini berfokus pada pertanian organik dan edukasi pencegahan stunting, bekerja sama dengan Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam).
Program bertajuk “Pemberdayaan Keluarga Jamaah Tani Muhammadiyah dengan SITUTI dan Tea Compost Bag untuk Generasi Emas dan Reduksi Stunting” ini merupakan bagian dari hibah RisetMu yang didanai oleh Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Umsida. Kegiatan ini telah berlangsung sejak Januari lalu selama satu bulan.
Meningkatkan Kesejahteraan Petani dengan Pertanian Organik
Intan menjelaskan bahwa program ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian petani Muhammadiyah melalui penerapan pertanian organik berkelanjutan.
“Kegiatan ini dirancang agar petani bisa menjadi pelopor dalam pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan stunting,” ungkap Intan.
Kawasan Bromo Tengger Semeru dipilih karena memiliki potensi pertanian yang besar, tetapi sistem pertaniannya masih sederhana. Selain itu, daerah ini juga termasuk dalam Lokus Stunting, sehingga kolaborasi dan edukasi sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pertanian serta kesehatan masyarakat.
Edukasi Pembuatan Compost Tea untuk Pertanian Berkelanjutan
Salah satu kegiatan utama dalam program ini adalah pelatihan pembuatan compost tea, yaitu pupuk organik cair yang dibuat dari limbah kandang atau dapur yang difermentasi menggunakan jamur Trichoderma sebagai bioaktivator.
“Teknologi compost tea sangat penting untuk meningkatkan kesuburan tanah, memperkuat daya tahan tanaman terhadap hama, dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia,” jelas Intan.
Selain memberikan materi teori, petani juga mendapatkan bimbingan praktik langsung dalam pembuatan compost tea, sehingga dapat dengan mudah diterapkan di lapangan.
SITUTI: Edukasi Pencegahan Stunting dan Pernikahan Dini
Selain pertanian organik, program ini juga mencakup edukasi kesehatan melalui SITUTI (LiteraSI Anti sTUnTIng). Inovasi ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya perempuan, tentang bahaya pernikahan dini dan dampaknya terhadap kesehatan serta tumbuh kembang anak.
Edukasi dilakukan melalui pendekatan sekolah perempuan di kawasan Bromo Tengger Semeru dan didukung oleh buku SITUTI yang dirancang khusus untuk memberikan wawasan mengenai stunting dan pola asuh sehat.
“Kami berharap dengan adanya buku SITUTI, masyarakat semakin sadar akan risiko pernikahan dini serta pentingnya pemenuhan gizi sejak masa kehamilan,” tambah Intan.
Harapan Keberlanjutan Program
Melalui pendampingan ini, Intan berharap program ini bisa terus berjalan secara berkelanjutan, tidak hanya selama program berlangsung tetapi juga setelahnya.
“Kami ingin hasil dari pengabdian ini tidak hanya meningkatkan produktivitas pertanian tetapi juga memberikan wawasan baru mengenai pentingnya nutrisi dalam mencegah stunting,” ujarnya.
Ketua Pusat Studi SDGs Umsida ini juga berharap Jamaah Tani Muhammadiyah dapat berkembang menjadi komunitas yang mandiri dan berkelanjutan, serta berkontribusi dalam menciptakan generasi emas bebas stunting di Bromo Tengger Semeru.
Ketua Majelis Swasembada Masyarakat Kabupaten Pasuruan, Arif Rohman, mengapresiasi inisiatif ini.
“Dalam perspektif Islam, pertanian yang baik adalah yang mampu menjaga kelestarian lingkungan. Program ini sejalan dengan nilai-nilai tersebut,” ungkapnya.
Tinggalkan Balasan