
Yogyakarta, 2025 – Permasalahan kesehatan ternak ruminansia, terutama akibat infeksi parasit, menjadi tantangan utama dalam meningkatkan produktivitas peternakan. Salah satu parasit yang umum menyerang ternak ruminansia kecil di Indonesia adalah Haemonchus contortus, yang dapat merusak saluran cerna, menghambat penyerapan nutrisi, serta menurunkan performa ternak.
Menanggapi hal ini, Prof. Kustantinah, peneliti dari Laboratorium Ilmu Makanan Ternak (IMT) Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM), mengusulkan strategi pemanfaatan tanaman tropis sebagai agen bioanthelmintik alami.
“Pengelolaan pakan yang baik dapat mengurangi dampak negatif infeksi parasit pada ternak,” ujar Prof. Kustantinah dalam program Fapet Menyapa bertema “Feed Additive pada Pakan Ternak”.
Tanaman Tropis Sebagai Bioanthelmintik Alami
Selama lebih dari 20 tahun, Prof. Kustantinah meneliti kandungan metabolit sekunder dalam hijauan pakan yang berfungsi sebagai anti-parasit alami. Daun Indigofera, mahoni, ketapang, dan kaliandra telah terbukti mengandung senyawa tanin yang dapat mengurangi manifestasi parasit pada ternak.
Menurutnya, masih banyak tanaman tropis dan gulma yang belum dimanfaatkan secara optimal meskipun berpotensi menjadi sumber bioanthelmintik alami. Dengan pengembangan lebih lanjut, penggunaan obat antelmintik komersial yang berisiko menimbulkan resistensi parasit dapat dikurangi.
“Eksplorasi tanaman tropis sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitas ternak ruminansia sekaligus mendukung komitmen Fakultas Peternakan UGM dalam kontribusi terhadap Sustainable Development Goals (SDGs),” jelasnya.
Bungkil Inti Sawit sebagai Pakan Alternatif
Selain penelitian mengenai bioanthelmintik alami, Prof. Zuprizal, peneliti IMT Fapet UGM lainnya, menyoroti potensi bungkil inti sawit sebagai bahan pakan ternak alternatif.
Bungkil inti sawit, yang merupakan limbah dari produksi minyak sawit, mengandung protein kasar 14–19% dan dapat digunakan dalam pakan ayam broiler dengan komposisi 10% dari total formulasi pakan. Dengan optimalisasi ini, diperkirakan penggunaan bungkil inti sawit dalam industri pakan dapat mencapai 2 juta ton per tahun, mengurangi ketergantungan pada jagung (9%) dan bungkil kedelai (3%), yang sebagian besar masih diimpor.
Namun, Prof. Zuprizal menekankan bahwa serat kasar yang tinggi dalam bungkil inti sawit memerlukan suplementasi enzim tambahan, seperti mananase, NSPase, dan protease, untuk meningkatkan kecernaan nutrien dan produktivitas ayam broiler.
Inovasi Feed Additive dengan Teknologi Nano
Selain itu, tim IMT Fapet UGM juga mempresentasikan hasil riset mengenai feed additive berbasis teknologi nano untuk meningkatkan kesehatan dan produktivitas ternak. Beberapa inovasi yang dikembangkan meliputi:
- Nano teknologi ekstrak kunyit
- Nano teknologi ekstrak kapulaga
- Nano emulsion ekstrak minyak atsiri serai
- Nano ekstrak daun sirsak
Teknologi ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas feed additive dalam meningkatkan kesehatan pencernaan dan performa ternak secara keseluruhan.
Dengan berbagai inovasi ini, Fakultas Peternakan UGM terus berupaya menghadirkan solusi berkelanjutan dalam industri peternakan, baik melalui eksplorasi tanaman tropis, pemanfaatan limbah pertanian, maupun penerapan teknologi modern dalam pakan ternak.
Tinggalkan Balasan