Langsung ke konten
BERITADOSEN.PORTAL AKADEMIK
Beranda / Prestasi Akademik / Artikel

Tiron Angeringe UB Raih Terbaik I Video Paling Inovatif Abdidaya 2026

Banner resmi Anugerah Abdidaya Ormawa 2026, ajang penghargaan untuk tim Tiron Angeringe Universitas Brawijaya
Foto: Panitia Anugerah Abdidaya Ormawa 2026

MAKASSAR — Program 'Tiron Angeringe' dari Universitas Brawijaya (UB) meraih penghargaan Terbaik I kategori Tim Pelaksana dengan Video Paling Inovatif pada Anugerah Abdidaya Ormawa 2026. Peringkat tersebut diumumkan dalam daftar penetapan resmi Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan setelah rangkaian acara di Makassar pada 24 Oktober 2026.

Proyek berjudul 'Tiron Angeringe: Inovasi Pengeringan Gabah Berbasis IoT dan Sekam Padi sebagai Solusi Mekanisasi Pascapanen di Lahan Sempit Desa Tiron' diusung Eksekutif Keluarga Mahasiswa Fakultas Pertanian PSDKU UB Kediri. Program berada dalam kelompok PPK Ormawa bertopik Smart Farming dengan desa binaan Desa Tiron, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Pengeringan gabah untuk keterbatasan lahan penjemuran

Portal peserta resmi Anugerah Abdidaya mencantumkan Frederick Alden Axelle Ardianta sebagai ketua tim, dengan M. Rizallul Choirulloh dan Muhammad Wiradinata sebagai anggota. Septian Maulana Purnama tercatat sebagai dosen pendamping, sedangkan Delima Tarigan tercantum sebagai ketua organisasi kemahasiswaan.

Rancangan program menyebut pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) dan sekam padi untuk mendukung proses pengeringan gabah. Konsep tersebut relevan dengan kebutuhan petani yang memiliki keterbatasan lahan penjemuran dan menghadapi kesulitan mengeringkan hasil panen saat cuaca tidak mendukung.

Penggunaan IoT dalam konteks pengeringan dapat membantu pemantauan parameter proses, sementara sekam padi berpotensi menjadi sumber energi biomassa. Namun, judul dan ringkasan program tidak menjelaskan spesifikasi alat, hasil uji efisiensi energi, kapasitas produksi, atau data perbandingan dengan metode pengeringan lainnya.

Kategori penghargaan yang diperoleh ialah video paling inovatif, yakni penilaian terhadap karya dokumentasi program. Penetapan tersebut tidak secara langsung mengonfirmasi bahwa alat mampu menghasilkan kadar air gabah 14 persen, mempersingkat waktu pengeringan dalam rasio tertentu, atau menaikkan pendapatan petani; klaim demikian memerlukan hasil pengukuran yang dapat ditelusuri.

Penghargaan ini memperlihatkan peran dosen pendamping dan mahasiswa dalam mengangkat persoalan pascapanen melalui ide teknologi tepat guna. Untuk menilai penerapan dan manfaat teknisnya lebih lanjut, diperlukan data uji lapangan serta dokumentasi pelaksanaan yang lebih rinci dari tim pengembang.

Prestasi MahasiswaTeknologi PertanianIoT

Kampus: Universitas Brawijaya

Ada koreksi atau informasi tambahan? Hubungi [email protected].