JAKARTA — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menyelenggarakan focus group discussion penguatan tata kelola kerja sama perguruan tinggi di Jakarta, Rabu 28 Oktober 2026. Forum membahas internasionalisasi pendidikan tinggi dan pencapaian indikator kinerja utama yang dapat dirasakan manfaatnya.
Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek Badri Munir Sukoco menekankan bahwa perguruan tinggi perlu menyeimbangkan pemanfaatan kerja sama yang telah berjalan dengan penjajakan bidang kemitraan baru. Kolaborasi luar negeri tidak seharusnya berhenti pada penandatanganan dokumen.
Menjaga kemitraan lama sekaligus membuka peluang baru
Badri mengajak kampus mempertahankan hubungan yang produktif sembari mencari peluang kolaborasi dengan pemerintah daerah dan industri. Dengan cara itu, pertukaran pengetahuan tidak hanya menghasilkan relasi kelembagaan, tetapi juga dapat membantu pemecahan persoalan nyata.
Peningkatan keahlian dosen menjadi salah satu manfaat yang diharapkan dari kemitraan. Pelatihan ulang dan peningkatan kompetensi dapat dikembangkan bersama perguruan tinggi luar negeri maupun mitra industri, sesuai kepakaran dan tujuan program.
Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Ade Faisal menjelaskan kerja sama pendidikan tinggi mencakup beasiswa, pelatihan, pembelajaran, penelitian, dan inovasi. Forum FGD digunakan untuk mengidentifikasi hambatan serta menghimpun usulan penguatan tata kelola.
Berita kementerian memaparkan arah kebijakan dan diskusi, bukan pengumuman aturan baru yang sudah mewajibkan semua kerja sama memiliki bentuk tertentu. Rekomendasi forum masih perlu ditindaklanjuti sehingga redaksi tidak menyatakan ada persyaratan hukum baru yang telah diberlakukan.