MALANG — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Fauzan mendorong perguruan tinggi mengarahkan riset pada persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat. Pesan tersebut disampaikan saat pembukaan Seminar Living Lab Summit 2026 di Universitas Brawijaya pada Jumat, 30 Oktober.
Seminar bertema Meretas Masa Depan: Arah Baru Sains dan Teknologi Berbasis Dampak Sosial mempertemukan pihak kampus, pemerintah, dan lembaga pendukung penelitian. Rilis Kemdiktisaintek dipublikasikan pada Sabtu, 31 Oktober 2026.
Pendekatan living lab dan kolaborasi multipihak
Fauzan menilai pusat keilmuan perlu terhubung dengan kebutuhan nyata, misalnya persoalan pertanian dan akses air. Penelitian dapat dimulai dari pemetaan masalah, penentuan lokasi penerapan, lalu penyusunan solusi yang bisa diuji bersama masyarakat.
Pendekatan living lab memandang masyarakat bukan sekadar penerima hasil penelitian, melainkan pihak yang ikut menjelaskan kebutuhan dan memberikan masukan dalam proses pengembangan inovasi. Riset dapat menjadi lebih relevan ketika praktik lapangan dipertimbangkan sejak tahap perancangan.
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Ahmad Najib Burhani menggarisbawahi bahwa kampus, pemerintah, dunia usaha, serta masyarakat memiliki peran berbeda yang perlu saling melengkapi. Rektor UB Widodo juga menekankan pentingnya hilirisasi tanpa mengabaikan penelitian dasar.
Menurut laporan resmi, LPDP telah mendukung lebih dari 4.800 kegiatan riset sejak 2021 dengan pendanaan lebih dari Rp2,5 triliun hingga 2026. Angka tersebut menggambarkan dukungan pendanaan, bukan bukti seluruh penelitian telah menghasilkan produk komersial atau dampak sosial terukur.