BATU — Tim Dosen Berkarya Universitas Brawijaya (UB) berkolaborasi dengan Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (PLUT KUMKM) Kota Batu untuk membantu UMKM Fauzi Keripik Tempe membangun pengendalian mutu produksi. Program pendampingan dijalankan dalam rentang Juni hingga November 2026.
Tim dari Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem UB dipimpin Sakunda Anggarini bersama Imam Santoso dan Sri Suhartini. Mitra program mencakup PLUT KUMKM Kota Batu dan pelaku usaha keripik tempe di Kelurahan Junggo, Kecamatan Bumiaji, yang dikelola Susi Fauziah.
SOP, dashboard Excel, dan penyesuaian spinner
Pada tahap awal, tim memetakan alur produksi dan menemukan pencatatan mutu belum berlangsung secara sistematis. Sejumlah aturan kerja masih disampaikan secara lisan oleh pemilik usaha. Tahap pemotongan dan penggorengan dinilai menjadi titik yang perlu diperhatikan karena memengaruhi karakter produk akhir.
Pendampingan kemudian diarahkan pada penyusunan buku pedoman mutu, standar operasional prosedur, instruksi kerja, serta formulir pemeriksaan hasil produksi. Dokumen tersebut dimaksudkan agar pekerja dapat mengikuti proses yang lebih konsisten tanpa harus mengubah formula produk yang telah menjadi ciri usaha.
Tim juga mengembangkan dashboard berbasis Microsoft Excel untuk mencatat produk yang rusak, misalnya gosong atau menjadi remahan. Dashboard lain digunakan untuk memantau riwayat pemesanan dari 32 gerai ritel modern, sehingga pengelola usaha dapat menelusuri distribusi dan kondisi produk yang beredar.
Pada sisi peralatan, tim memodifikasi alat peniris minyak atau spinner dengan menambahkan keranjang yang lebih kecil. Penyesuaian itu bertujuan mengurangi benturan keripik selama proses penirisan sehingga minyak dapat berkurang tanpa membuat produk yang rapuh menjadi banyak pecah.
Laporan kegiatan menguraikan pengembangan prosedur dan perangkat pemantauan, tetapi tidak memberikan data uji komparatif yang cukup untuk menyimpulkan adanya kenaikan produktivitas atau masa simpan tertentu. Karena itu, hasil pendampingan diberitakan sebagai upaya penguatan sistem mutu, bukan klaim keberhasilan industri yang telah terukur.