MALANG — Akademisi Universitas Brawijaya Setyono Yudo Tyasmoro mendampingi penanaman sekitar 4.000 bibit cabai di Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, pada Rabu, 21 Oktober 2026. Kegiatan bersama Pemerintah Kota Malang dan Gabungan Kelompok Tani Sumber Rejeki memanfaatkan lahan sekitar 6.000 meter persegi untuk mendukung ketersediaan pangan.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk pendampingan akademisi kepada kelompok tani dalam mengembangkan budidaya hortikultura. Keterlibatan dosen dan mahasiswa diharapkan memberi akses lebih luas pada pengetahuan pertanian serta pemantauan tantangan produksi yang dihadapi petani.
Ketersediaan air menjadi tantangan penanaman
Setyono menjelaskan bahwa Universitas Brawijaya telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan kelompok tani. Hubungan ini diupayakan tidak berhenti pada kegiatan kuliah kerja nyata, melainkan dilanjutkan melalui pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan lapangan.
Salah satu persoalan utama di lokasi penanaman ialah keterbatasan air selama musim kering. Tanaman cabai memerlukan pasokan air yang cukup untuk melewati tahapan awal pertumbuhan, sehingga penyiapan sumber air dan pengaturan budidaya menjadi perhatian petani serta mitra akademik.
Kegiatan penanaman juga berkaitan dengan harapan menjaga pasokan komoditas pangan di pasar setempat. Namun, ketersediaan bibit dan luas lahan belum dapat digunakan untuk menentukan volume hasil panen yang baru akan terlihat setelah tanaman tumbuh dan memasuki masa produksi.
Pendampingan dari perguruan tinggi dapat digunakan untuk membahas pemilihan varietas, pengelolaan lahan, serta strategi menghadapi perubahan cuaca. Penyelesaian permasalahan air tetap memerlukan dukungan pengelolaan dan investasi sesuai kondisi pertanian di Merjosari.
Laporan kegiatan tidak memuat hasil uji yang membuktikan pemangkasan penggunaan pestisida sebesar 35 persen ataupun peningkatan produktivitas per hektare sebagaimana tertulis dalam bahan awal. Hasil yang dapat dipastikan adalah penanaman bibit, kerja sama dengan Gapoktan, dan komitmen pendampingan berkelanjutan.