BANDUNG — Dosen Universitas Teknologi Bandung (UTB) melaporkan kegiatan edukasi mengenai zat aditif pada makanan bagi warga RT 9 Kelurahan Warung Muncang, Kota Bandung. Program pengabdian tersebut dibahas dalam artikel ilmiah yang terbit pada 6 Agustus 2026 di Inovasi Jurnal Pengabdian Masyarakat, Volume 4 Nomor 2.
Artikel berjudul 'Pelatihan Sortir Zat Aditif untuk Peningkatan Kesehatan Warga RT 9 Kelurahan Warung Muncang Bandung' ditulis Ai Nurhayati, Saepudin, Suci Tresna Dewi Handayani, dan J. F. Rusdi. Publikasi dengan DOI 10.54082/ijpm.1370 menjelaskan pendekatan pelatihan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penggunaan bahan tambahan dalam makanan.
Hasil pre-test dan post-test yang dilaporkan
Menurut abstrak artikel, kegiatan meliputi pemberian pre-test, penyuluhan, pemutaran video eksperimen, latihan pemilahan bahan makanan, serta post-test. Peserta menerima penjelasan mengenai jenis produk dan praktik memilih makanan dengan mempertimbangkan informasi yang tersedia.
Penulis melaporkan ukuran pemahaman peserta sebelum pelatihan sebesar 26,7 persen, sedangkan sesudah kegiatan mencapai 93,3 persen. Angka ini merupakan hasil evaluasi yang dinyatakan dalam artikel dan tidak dapat disamakan dengan bukti bahwa konsumsi bahan tambahan pangan menurun dalam jangka panjang.
Pembelajaran literasi pangan penting agar konsumen dapat membedakan penggunaan bahan tambahan yang diizinkan sesuai batas dan kategori produk dari penyalahgunaan zat yang dilarang. Tidak semua zat aditif otomatis berbahaya; keselamatan produk bergantung pada bahan, dosis, cara penggunaan, dan kepatuhan terhadap peraturan.
Pelatihan pemilahan makanan berdasarkan ciri yang tampak tidak dapat membuktikan secara kimia suatu pangan bebas bahan berbahaya. Penetapan keberadaan maupun kadar zat tertentu memerlukan metode pengujian yang sesuai. Publikasi tersebut juga tidak memberikan dasar untuk mengklaim sebuah alat uji kimia baru telah digunakan dan tervalidasi.
Berita ini mengulas kegiatan yang telah diterbitkan pada Agustus, bukan mengumumkan pelatihan baru pada 29 Oktober. Bukti terkuat adalah laporan ilmiah mengenai penyuluhan dan evaluasi pengetahuan, sementara perubahan perilaku maupun dampak kesehatan masyarakat masih memerlukan pengamatan yang lebih panjang.