Langsung ke konten
BERITADOSEN.PORTAL AKADEMIK
Beranda / Kabar Kampus / Artikel

Dosen Vokasi UNAIR Ingatkan Herbal Bukan Pengganti Pengobatan Medis

Dosen Fakultas Vokasi Universitas Airlangga Maya Septriana membahas penggunaan herbal secara aman
Foto: Vokasi Universitas Airlangga / ANTARA

SURABAYA — Dosen Program Studi D4 Pengobatan Tradisional (Battra) Fakultas Vokasi Universitas Airlangga, Maya Septriana, mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan ramuan herbal sebagai pengganti diagnosis maupun pengobatan medis. Pesan itu disampaikan dalam penjelasan publik yang diberitakan ANTARA pada Minggu, 25 Oktober 2026.

Menurut Maya, tanaman seperti jahe, kunyit, temulawak, dan kencur memiliki sejarah pemanfaatan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Namun, penggunaan bahan tradisional harus memperhatikan tujuan, batas manfaat, keamanan, dan bukti ilmiah yang relevan.

Lima pemeriksaan untuk penggunaan herbal yang lebih aman

Herbal dapat menjadi bagian dari pemeliharaan kebugaran apabila dipakai dengan tepat. Kondisi tersebut berbeda dengan penanganan penyakit yang memerlukan pemeriksaan, obat resep, atau tindakan oleh tenaga kesehatan. Maya menekankan agar masyarakat tidak menghentikan obat dokter hanya karena mengonsumsi jamu atau suplemen berbahan tanaman.

Untuk meningkatkan keamanan penggunaan, Maya menyampaikan lima perhatian utama: memastikan identitas tanaman atau bahan, memilih produk yang memiliki izin edar BPOM, mengikuti takaran serta petunjuk penggunaan, menjaga kebersihan pengolahan dan penyimpanan, serta berkonsultasi apabila sedang menggunakan obat lain atau memiliki kondisi khusus.

Konsultasi juga penting bagi ibu hamil dan pasien dengan penyakit kronis karena bahan herbal dapat memiliki efek yang berbeda menurut kondisi kesehatan dan penggunaan bersamaan dengan pengobatan lain. Karena itu, klaim khasiat di media sosial perlu diperiksa, bukan diterima hanya berdasarkan pengalaman individual.

Gejala berat seperti sesak napas, nyeri dada, penurunan kesadaran, perdarahan, demam tinggi, atau gangguan pencernaan yang parah memerlukan pertolongan medis. Apabila keluhan memburuk setelah mengonsumsi ramuan herbal, masyarakat diminta tidak menunda pemeriksaan.

Di lingkungan pendidikan tinggi, riset farmakologi, pengolahan yang baik, dan pengawasan produk dapat membantu menempatkan pengetahuan tradisional dalam praktik yang lebih aman. Penjelasan Maya bukan larangan menyeluruh terhadap herbal, melainkan ajakan membedakan penggunaan pendukung kebugaran dari terapi penyakit yang harus berbasis evaluasi medis.

KesehatanEdukasi MasyarakatHerbal

Kampus: Universitas Airlangga

Ada koreksi atau informasi tambahan? Hubungi [email protected].