Langsung ke konten
BERITADOSEN.PORTAL AKADEMIK
Beranda / Riset & Inovasi / Artikel

FEB UGM Bahas TOMIRA dan WAMIRA untuk Penguatan Ekonomi Lokal

Hasto Wardoyo dan Sahid Susilo Nugroho membahas TOMIRA dan WAMIRA dalam podcast FEB UGM
Foto: Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM

YOGYAKARTA — Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada membahas penguatan ekonomi lokal melalui model Toko Milik Rakyat (TOMIRA) dan Warung Segoro Amarto atau WAMIRA. Pembahasan dipublikasikan pada 27 Oktober 2026 berdasarkan episode FEB UGM Podcast bersama Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo serta dosen manajemen Sahid Susilo Nugroho.

Percakapan berangkat dari persoalan hubungan antara jaringan ritel modern, kepemilikan usaha lokal, dan kemampuan pelaku UMKM mengakses pasar. Menurut Hasto, dominasi kepemilikan jaringan usaha oleh pelaku dari luar daerah dapat menyebabkan manfaat ekonomi tidak sepenuhnya berputar di masyarakat setempat.

TOMIRA dan WAMIRA memiliki tujuan berbeda

TOMIRA berkembang melalui kemitraan dengan jaringan ritel modern untuk memberi ruang bagi koperasi menjadi bagian dari kepemilikan bisnis. Hasto menjelaskan bahwa model ini membuka peluang pembagian keuntungan kepada koperasi dan menyediakan tempat bagi produk lokal yang dapat mencapai sebagian dari barang yang dipasarkan.

Sementara itu, WAMIRA diarahkan pada keterjangkauan kebutuhan pokok dan pengendalian harga di Kota Yogyakarta. Pengembangan warung melibatkan Koperasi Kelurahan Merah Putih; menurut Hasto, inisiatif tersebut telah dimulai pada empat kecamatan dengan perhatian pada konsumen berpenghasilan lebih rendah.

Sahid Susilo Nugroho menilai TOMIRA sebagai pendekatan kemitraan yang dapat menghubungkan usaha lokal dengan perusahaan besar tanpa selalu menempatkan keduanya dalam posisi saling berhadapan. Koperasi memperoleh peluang dalam kepemilikan, sedangkan UMKM dapat memperluas akses pasar untuk produk daerah.

Dalam pandangannya, WAMIRA berpotensi berfungsi sebagai jaring pengaman ekonomi ketika terjadi gangguan harga atau distribusi kebutuhan pokok. Akan tetapi, efektivitas program memerlukan evaluasi mengenai keberlanjutan pengelolaan koperasi, ketersediaan barang, dan siapa saja yang benar-benar menerima manfaat.

Publikasi FEB UGM merupakan pembahasan kebijakan dan pengalaman pembangunan ekonomi lokal, bukan laporan penelitian eksperimental yang memastikan kenaikan pendapatan seluruh UMKM. Forum ini memperlihatkan perlunya kolaborasi pemerintah daerah, akademisi, pelaku bisnis, serta komunitas untuk memperluas manfaat ekonomi.

UMKMKoperasiEkonomi Lokal

Kampus: Universitas Gadjah Mada

Ada koreksi atau informasi tambahan? Hubungi [email protected].