SURABAYA — Belajar musik tidak selalu membutuhkan alat musik. Tepukan tangan, hentakan kaki, dan gerakan tubuh dapat digunakan untuk mengenalkan ritme sekaligus mengembangkan kreativitas siswa. Pendekatan ini diperkenalkan tim dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa) kepada 50 siswa SMP St. Yosef Surabaya.
Pelatihan berlangsung pada Senin, 5 Oktober 2026, melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) Program Studi S1 Musik, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa. Program bertajuk “Pelatihan Musik Kreatif Body Percussion untuk Penguatan Literasi Musik dan Kreativitas Siswa SMP di Surabaya” itu dipimpin dosen Raden Roro Maha Kalyana Mitta Anggoro.
Mengenalkan ritme melalui gerakan tubuh
Dalam metode body percussion, tubuh digunakan sebagai instrumen untuk menghasilkan bunyi. Siswa diajak menyusun pola dari tepukan tangan, hentakan kaki, atau tepukan pada paha untuk mengenali ketukan, durasi, aksen, serta tempo. Mereka juga dapat bereksperimen dengan mengubah urutan bunyi dan jeda.
Maha Kalyana menjelaskan bahwa literasi musik tidak hanya berarti mampu membaca notasi. Pengalaman mendengarkan, merasakan ketukan, mengenali pola bunyi, dan mengekspresikan musik merupakan bagian dari proses belajar.
Kami ingin siswa memahami bahwa mereka memiliki kesempatan untuk belajar musik, meskipun belum pernah memainkan alat musik tertentu. Bunyi sederhana dapat menjadi awal untuk membangun kepekaan musikal dan keberanian mencoba.
Menurutnya, cara belajar tersebut memberi ruang kepada siswa dengan pengalaman bermusik yang berbeda. Peserta tidak perlu menguasai alat musik tertentu untuk mulai memahami konsep musikal.
Melatih kreativitas dan kerja sama
Pelatihan juga mengajak peserta memainkan ritme secara berkelompok. Ketika menghasilkan bunyi bersama, siswa perlu mendengarkan teman, menjaga ketukan, menentukan saat masuk, dan memberi ruang kepada anggota kelompok lainnya.
Maha Kalyana menilai pengalaman bermusik bersama dapat menjadi latihan kolaborasi. Setiap peserta belajar menyesuaikan bagian yang dimainkan agar keseluruhan pola tetap terjaga.
Kepala SMP St. Yosef Surabaya, Novi Tribawanti, menilai penggunaan media sederhana yang dekat dengan keseharian siswa dapat memperkaya pembelajaran seni sekaligus mendorong keterlibatan aktif. Melalui kegiatan ini, tim dosen Unesa menawarkan alternatif pembelajaran musik yang tidak bergantung pada ketersediaan instrumen.