GOWA — Tim dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muslim Indonesia (UMI) memperkenalkan pemanfaatan limbah plastik menjadi paving block kepada warga Desa Bontokassi, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Kegiatan pengabdian masyarakat tersebut menjadi bagian dari edukasi pengelolaan sampah di tingkat desa.
Laporan Pojok Sulsel pada 1 November menyebut kegiatan ini sebagai tahap kedua dari rangkaian pengabdian. Salah satu dosen, Andi Muhammad Akram, menjelaskan pendekatan yang diperkenalkan untuk mengubah bahan plastik bekas menjadi produk yang memiliki peluang pemanfaatan.
Dalam kegiatan praktik, plastik dikumpulkan dan dipilah, kemudian melalui tahapan pengolahan sebelum dicetak sebagai paving block. Langkah tersebut menunjukkan cara memanfaatkan sebagian sampah anorganik daripada membuangnya langsung ke lingkungan.
Daur ulang sebagai edukasi, bukan produksi massal
Program ini melanjutkan edukasi pengelolaan sampah yang dilakukan pada 2024. Saat itu, warga mendapat sosialisasi tentang pemilahan sampah organik dan anorganik, yang menjadi dasar penting sebelum proses daur ulang dapat dilakukan secara lebih terarah.
Sekretaris Desa Bontokassi, Nurdin, menyampaikan bahwa sebagian warga masih membakar sampah karena layanan pengangkutan tidak selalu tersedia. Situasi itu menjadi alasan bagi tim kampus untuk mengenalkan alternatif pengelolaan yang lebih terstruktur.
Pengolahan plastik menjadi paving block berpotensi membuka kegiatan ekonomi skala komunitas, tetapi sumber belum menyebut jumlah produk yang dihasilkan, nilai penjualan, atau usaha warga yang sudah beroperasi rutin. Tim juga perlu memastikan keselamatan proses produksi bagi peserta.
Kualitas dan kelayakan paving block harus diuji sebelum digunakan pada infrastruktur, termasuk kekuatan, ketahanan cuaca, serta potensi dampak lingkungan. Pelatihan ini karena itu lebih tepat disebut demonstrasi dan pendampingan pengelolaan limbah, bukan bukti produk telah memenuhi standar konstruksi.