SURAKARTA — Tiga akademisi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) masuk dalam daftar Top 2% Scientists dunia 2026 berdasarkan indikator ilmiah yang digunakan dalam pemutakhiran basis data peneliti. Ketiganya berasal dari disiplin yang berbeda, yakni farmasi, pendidikan matematika, dan ilmu hukum.
Mereka adalah Associate Professor Md. Sanower Hossain dari Fakultas Farmasi, Naufal Ishartono dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), serta Arief Budiono dari bidang ilmu hukum. Pencantuman dalam daftar tersebut mencerminkan rekam jejak publikasi dan dampak sitasi penelitian, bukan kemenangan dalam kompetisi yang memerlukan pendaftaran peserta.
Riset farmasi dan pembelajaran matematika
Md. Sanower Hossain sebelumnya juga masuk dalam daftar ilmuwan tersebut pada 2025. Penelitiannya antara lain berkaitan dengan pemanfaatan bahan alam untuk mengembangkan nanomaterial, termasuk sintesis nanopartikel seng oksida dan eksplorasi komponen limbah pertanian untuk formulasi produk kesehatan.
Kajian itu masih memerlukan pengujian ilmiah serta pemenuhan ketentuan keamanan sebelum hasilnya dapat dimanfaatkan sebagai produk. Karena itu, hasil penelitian tidak dapat disamakan dengan obat atau teknologi yang telah tersedia untuk penggunaan masyarakat.
Di bidang pendidikan matematika, Naufal Ishartono mengembangkan media belajar interaktif Flip Flop dari pendekatan Flip Learning. Media berbasis web ini diarahkan untuk membantu siswa memahami konsep matematika abstrak melalui visualisasi dan kegiatan eksplorasi.
Pengembangan Flip Flop mencakup fitur pembelajaran dan simulasi, serta peluang pemanfaatan kecerdasan artifisial. Menurut penjelasan yang disampaikan UMS, medianya masih dalam tahap validasi, dengan uji coba lapangan direncanakan pada tahap berikutnya.
Kajian hukum kesehatan
Sementara itu, Arief Budiono menekuni kajian hukum kesehatan, termasuk perlindungan pasien dan tenaga medis serta kebijakan yang berkaitan dengan penggunaan teknologi dalam layanan kesehatan. Bidang tersebut memiliki relevansi dengan perkembangan kecerdasan artifisial dalam proses diagnosis.
Keberagaman bidang keilmuan ketiga dosen menunjukkan bahwa keterlihatan riset internasional tidak terbatas pada disiplin ilmu eksakta. UMS berharap pengakuan tersebut mendorong konsistensi penelitian yang dapat dikembangkan dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah.