Langsung ke konten
BERITADOSEN.PORTAL AKADEMIK
Beranda / Kabar Kampus / Artikel

Dosen Psikologi UMS Jelaskan Mengapa Kita Tiba-Tiba Teringat Seseorang

Potret dosen Psikologi UMS Audi Ahmad Rikardi

SURAKARTA — Pernah tiba-tiba teringat seseorang, lalu tak lama kemudian orang tersebut menghubungi kita? Kejadian seperti ini sering dianggap sebagai tanda bahwa dua orang sedang saling memikirkan. Namun, menurut dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Audi Ahmad Rikardi, belum ada bukti ilmiah yang cukup untuk mendukung anggapan tersebut.

Audi menjelaskan bahwa memikirkan seseorang merupakan proses internal. Meski dua orang memiliki ikatan emosional kuat, hal itu tidak berarti pikiran keduanya berlangsung bersamaan. Ketika seseorang yang kita ingat kemudian muncul atau menghubungi, kejadian tersebut bisa saja merupakan kebetulan.

Intuisi dan kecenderungan mencari pola

Dalam penjelasannya, Audi mengaitkan intuisi dengan gambaran dua sistem berpikir. Sistem pertama bekerja cepat dan lebih otomatis, sedangkan sistem kedua lebih lambat serta melibatkan pertimbangan kritis. Intuisi dapat membantu pengambilan keputusan, tetapi tidak otomatis menjadi bukti bahwa suatu dugaan benar.

Manusia juga cenderung mencari pola dalam pengalaman sehari-hari. Kemampuan mengenali pola berguna untuk merespons lingkungan, tetapi kadang membuat orang menghubungkan dua kejadian yang sebenarnya tidak mempunyai hubungan sebab-akibat.

Kecenderungan menganggap dua hal saling berkaitan tanpa bukti yang memadai disebut korelasi ilusif atau illusory correlation. Misalnya, seseorang mengingat satu kejadian ketika ia memikirkan seorang teman lalu menerima pesan darinya, tetapi mengabaikan banyak kejadian lain ketika hal yang sama tidak terjadi.

Bias konfirmasi dan pengaruh media sosial

Audi juga menyinggung confirmation bias atau bias konfirmasi, yaitu kecenderungan lebih memperhatikan informasi yang mendukung keyakinan dan kurang memperhatikan informasi yang bertentangan. Bias ini dapat membuat pengalaman kebetulan terasa seperti pola yang berulang.

Menurutnya, lingkungan budaya turut memengaruhi cara masyarakat menafsirkan firasat. Kepercayaan yang diwariskan turun-temurun, bersama film, lagu, serta konten media sosial, dapat membentuk pemaknaan seseorang tentang relasi sosial.

Ia mengingatkan agar gambaran hubungan yang muncul di media digital tidak dijadikan satu-satunya acuan untuk menilai kenyataan. Pengalaman sosial seseorang biasanya lebih kompleks daripada potongan cerita yang terlihat di layar.

Peran memori dan kedekatan emosional

Seseorang juga dapat teringat orang lain karena memori dan asosiasi. Lagu, film, tempat, barang, atau pengalaman tertentu dapat memunculkan kembali kenangan terhadap orang yang memiliki hubungan emosional dengannya.

Karena itu, tiba-tiba teringat seseorang lebih tepat dipahami melalui kerja memori, asosiasi, intuisi, dan pengalaman emosional, bukan sebagai bukti bahwa orang tersebut sedang memikirkan kita pada saat yang sama.

PendidikanPenelitian

Kampus: Universitas Muhammadiyah Surakarta

Ada koreksi atau informasi tambahan? Hubungi [email protected].