MAKASSAR — Tim peneliti Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar melaporkan potensi ekstrak daun kebiul (Caesalpinia bonduc) untuk menurunkan kadar glukosa darah pada tikus model diabetes. Hasil penelitian praklinis itu dibahas kembali oleh pihak kampus pada 2 November 2026.
Penelitian dipublikasikan dalam jurnal Pediatric Endocrinology, Diabetes and Metabolism volume 31 nomor 4 tahun 2025 dengan judul Hypoglycemic Effects of Caesalpinia bonduc (L). Roxb Leaf Extract in Streptozotocin-Induced Diabetic Rats. Nama penelitinya meliputi Ami Febriza, Anisah Ainun Zahrah, Nurul Sulfi Andini, dan Fityatun Usman dari jejaring Unismuh dan Universitas Hasanuddin.
Peneliti menggunakan 25 tikus Wistar jantan yang diinduksi mengalami kondisi diabetes melalui pemberian streptozotocin, kemudian dibagi menjadi lima kelompok. Tiga kelompok menerima ekstrak daun kebiul masing-masing dengan dosis 150, 200, dan 400 miligram per kilogram berat badan; kelompok pembanding menggunakan glibenklamid atau plasebo.
Hasil pengujian pada hewan belum menjadi terapi manusia
Pada kelompok dosis 400 miligram per kilogram, rata-rata gula darah dilaporkan turun dari 336 menjadi 116,20 miligram per desiliter dalam enam jam. Namun, 24 jam kemudian angkanya kembali meningkat menjadi sekitar 240,80 miligram per desiliter. Perubahan tersebut menunjukkan perlunya penelitian lebih lanjut tentang durasi kerja ekstrak.
Pengamatan jaringan pankreas juga menunjukkan sejumlah gambaran yang lebih baik pada hewan yang diberi ekstrak dibandingkan kelompok plasebo, termasuk tanda kerusakan dan peradangan yang lebih rendah. Namun, perubahan histopatologi belum membuktikan bahwa fungsi pankreas pulih secara menyeluruh.
Peneliti mengidentifikasi kelompok senyawa seperti flavonoid, tanin, dan saponin yang mungkin berkaitan dengan aktivitas biologis tanaman. Mekanisme kerja, dosis aman, dan kemungkinan interaksinya dengan obat antidiabetes belum dapat dipastikan dari hasil pengujian ini saja.
Studi ini tidak melibatkan pasien manusia sehingga tidak boleh diubah menjadi klaim bahwa daun kebiul telah terbukti menyembuhkan diabetes atau aman dikonsumsi sebagai terapi. Penelitian lanjutan, termasuk uji keamanan dan efektivitas klinis, diperlukan sebelum pengembangan bahan alam dapat dipertimbangkan untuk penggunaan pasien.