PURBALINGGA – Perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) yang semakin pesat mendorong guru untuk beradaptasi dalam proses pembelajaran dan pengelolaan administrasi sekolah. Menjawab kebutuhan tersebut, webinar bertajuk “Pemanfaatan AI di Sekolah” diselenggarakan secara daring melalui Zoom pada Jumat, 22 Mei 2026, pukul 19.00–21.00 WIB.

Kegiatan ini ditujukan untuk membekali guru dalam memahami pemanfaatan AI generatif secara aman, praktis, dan bertanggung jawab. Fokus utama webinar adalah penggunaan AI untuk membantu penyusunan bahan ajar, pembuatan soal dan rubrik, penyusunan dokumen administrasi, serta pemanfaatan NotebookLM untuk merangkum dan memahami dokumen berbasis sumber.
Webinar dibuka oleh Ibu Lilik Setijowati, S.Pd., dari Urusan Kemahasiswaan SMP Negeri 1 Padamara. Dalam pembukaan kegiatan, pihak sekolah menyampaikan dukungan terhadap peningkatan kompetensi guru, terutama dalam menghadapi perkembangan teknologi digital yang semakin dekat dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah.
Kegiatan ini menghadirkan dua pembicara. Materi pertama disampaikan oleh Muhtyas Yugi, M.Kom., dosen Universitas Komputama Cilacap, dengan topik “Dasar AI dan Gemini”. Dalam sesi ini, peserta mendapatkan pengenalan mengenai konsep dasar AI generatif, manfaat AI bagi pekerjaan guru, risiko halusinasi AI, pentingnya verifikasi hasil, serta pemanfaatan Google Gemini untuk mendukung penyusunan bahan ajar, dokumen administrasi, soal, dan rubrik.
Materi kedua disampaikan oleh Arif Mu’amar Wahid, M.Kom., dosen Prodi Informatika Universitas Amikom Purwokerto dan mahasiswa doktoral bidang AI for Bioelectric Potential Analysis di Kanazawa University, Jepang. Arif membawakan materi “Pemanfaatan NotebookLM”, yang berfokus pada penggunaan NotebookLM untuk membantu guru membaca, merangkum, dan bertanya berdasarkan dokumen sumber.
Kegiatan dipandu oleh Ahmad Latif, M.Kom., dosen Universitas Komputama Cilacap, sebagai moderator. Sesi berlangsung interaktif dengan penyampaian materi, contoh penggunaan AI, serta pembahasan mengenai batasan penggunaan AI di lingkungan sekolah, terutama terkait perlindungan data pribadi siswa dan orang tua.
Dalam kegiatan ini, peserta juga dikenalkan pada pentingnya menyusun prompt yang jelas dan terarah. Guru didorong untuk tidak hanya menggunakan AI sebagai alat bantu cepat, tetapi juga tetap berperan sebagai pengarah, pemeriksa, dan penanggung jawab akhir terhadap dokumen yang dihasilkan. Dengan demikian, AI diposisikan sebagai pendukung kerja guru, bukan pengganti peran guru dalam proses pembelajaran.
Data kegiatan menunjukkan 26 peserta mengisi presensi dan evaluasi akhir. Berdasarkan data pendaftaran, hampir seluruh peserta telah memiliki akun Google aktif, yaitu 97,9%. Sebanyak 48,9% peserta menyatakan sering atau sangat sering menggunakan Google Drive, Google Docs, atau Google Slides dalam pekerjaan sekolah. Sementara itu, penggunaan aplikasi AI juga sudah cukup dikenal, dengan ChatGPT digunakan oleh 95,7% peserta, Google Gemini oleh 63,8%, dan Canva AI oleh 61,7%.
Namun, data awal juga menunjukkan bahwa penggunaan NotebookLM masih rendah, yaitu hanya 8,5% peserta yang pernah menggunakannya. Temuan ini menunjukkan bahwa materi NotebookLM menjadi salah satu bagian penting dalam webinar, karena memberikan wawasan baru bagi guru mengenai pemanfaatan AI berbasis dokumen sumber.
Dari sisi kebutuhan, peserta paling banyak menyusun dokumen berupa materi untuk siswa, bahan presentasi, RPP, dan soal evaluasi. Kesulitan utama yang dialami guru meliputi membuat format dokumen yang rapi, waktu penyusunan yang cukup lama, kesulitan membuat soal dan rubrik, serta kesulitan memulai dokumen dari awal. Kondisi ini memperlihatkan bahwa topik webinar selaras dengan kebutuhan nyata guru dalam pekerjaan sehari-hari.
Hasil evaluasi pasca-kegiatan menunjukkan adanya peningkatan persepsi pemahaman peserta. Rata-rata skor pemahaman sebelum webinar berada pada angka 2,99 dari 5, kemudian meningkat menjadi 3,60 dari 5 setelah webinar. Dengan demikian, terjadi kenaikan sebesar 0,62 poin atau 20,6%. Peningkatan terbesar terjadi pada pemahaman fungsi NotebookLM, yaitu sebesar 30,4%.
Selain itu, peserta memberikan penilaian positif terhadap kegiatan. Skor kebermanfaatan materi mencapai 4,65 dari 5, sedangkan relevansi materi dengan kebutuhan sekolah memperoleh skor 4,62 dari 5. Materi yang dianggap paling bermanfaat oleh peserta adalah pemanfaatan AI untuk bahan ajar, pemanfaatan AI untuk soal dan rubrik, pengenalan AI untuk guru, penggunaan Google Gemini, teknik membuat prompt, dan pemanfaatan NotebookLM.
Masukan peserta menunjukkan adanya harapan agar kegiatan serupa dapat dilaksanakan kembali dengan durasi yang lebih panjang dan porsi praktik yang lebih banyak. Beberapa peserta juga mengusulkan agar kegiatan lanjutan dapat dilakukan secara luring agar pendampingan penggunaan AI lebih optimal.
Melalui kegiatan ini, diharapkan guru SMP Negeri 1 Padamara dapat mulai memanfaatkan AI secara lebih terarah, aman, dan bertanggung jawab. Ke depan, pelatihan lanjutan dapat difokuskan pada praktik penyusunan bahan ajar berbantuan AI, pembuatan soal dan rubrik, pemanfaatan NotebookLM untuk dokumen sekolah, serta pengelolaan hasil kerja melalui ekosistem Google.

